PKL "Pedagang Kaki Lima" Antara dibutuhkan dan dibubarkan

Diposting oleh On 02.27 with No comments

Singaraja - Seiring besarnya tingkat pertumbuhan pedagang kaki lima atau sering disebut dengan PKL menjadi hal yang sangat menyulitkan bagi Pemerintah. Sebab keadaan tersebut menimbulkan banyak dampak negatif bagi keberadaan infrastruktur kota khususnya kota Singaraja.. Kebijakan untuk mensistematiskan keeberadaan mereka pun menjadi agenda prioritas yang sangat penting bagi pemerintah. Namun, melihat besarnya presentase Pedagang Kaki Lima membuat Pemerintah kewalahan mengatasi hingga saat ini. Infrastruktur kota merupakan salah satu penentu keberadaaan kota yang dapat menciptakan model dan bentuk yang  jauh dari kebisingan yang tidak masuk akal dan juga bisa mengindahkan penglihatan. Namun, keberadaan pedagang kaki lima  memicu banyak argumen dari masyarakat yang merasa terganggu dengan keberadaan pedagang kaki lima tersebut.

Ada kalanya pedagang kaki lima di tempatkan pada tempat tersendiri, agar tidak mengganggu atau merusak tatanan kota. Memang pedagang kaki lima bukanlah hal yang asing didengar oleh telinga dan dilihat oleh mata, karena seperti yang telah diketahui bahwa hampir setiap pinggiran jalan terdapat pedagang-pedagang yang menggunakan gerobak sorong, mangkal di pinggir jalan maupun di emperan toko. Dalam hal ini tentu saja mengganggu pengguna ruang publik maupun tatanan ruang kota. Seperti yang dilihat pada kota Singaraja. Tentunya banyak masyarakat yang merasa resah karena banyaknya para pedagang kaki lima yang mangkal di mana-mana. Masalah atau fenomena yang seperti inilah yang ditimbulkan pedagang kaki lima ini dianggap menyulitkan dan menghambat Pemerintah Bali untuk mewujudkan sebuah kota yang bersih, dan tertib. 

Walaupun Pemerintah telah membuat kebijakan untuk melarang keberadaan pedagang kaki lima, namun kini faktanya jumlah pedagang kaki lima semakin hari semakin banyak. Dan tentunya kebijakan tersebut menuai banyak kontra dari pedagang kaki lima, karena kebijakan Pemerintah itu dianggap tidak tepat, tidak adil, dan merugikan para pedagang kaki lima. Serta permasalahan lain yang dihadapi oleh kaki lima adalah pedekatan yang dilakukan pemerintah dalam praktiknya banyak menggunakan kekerasan. Jangankan untuk makan sehari-hari, untuk biaya transpor pun tidak mencukupi. Para pedagang menjerit. Jika keadaan tetap seperti ini, mereka tidak mungkin bertahan. Mereka memerlukan kepedulian kita semua, terlebih khus kepedulian dari Pemerintah.  

Oleh karena itu diharapkan ada inisiatif dari Pemerintah untuk menyediakan tempat yang pas dan cocok untuk pedagang kaki lima. “ Emperan toko menjadi salah satu tempat yang sering dijadikan objek dalam melakukan proses jual-beli bagi para pedagang, namun ini dilakukan karena kebutuhan ekonomi mereka  yang tidak memadai, dan di sisi lain penjual juga sering menyalahkan pemerintah atas ketidaktanggungjawaban dalam memerhatikan pedagang-pedagang kecil, seperti layaknya para pedagang kaki lima”. Hal ini di ungkapkan oleh salah satu masyarakat Bali yang merasa terganggu dengan para pedagang kaki lima yang berada di sembarang tempat, Bedilius Menurut Lodi, salah satu masyarakat yang berasal dari luar Bali mengatakan  bahwa kebijakan Pemerintah itu akan sesuai dengan keinginan publik ketika Pemerintah mengikutsertakan  seluruh masyarakat untuk merumuskan suatu kebijakan, karena hal itu adalah partisipasi masyarakat, yaitu Pedagang Kaki Lima.  

Sekarang saja  banyak sekali para pedagang yang masuk pasar justru kembali berjualan di pinggir jalan. Pemerintah harus berupaya dan memilki komitmen serius dan konsisten dalam menjalankan peraturan bahwa pedagang kaki lima harus menempatkan pada tempat tersendiri. Jangan sampai Pedagang kaki lima (PkI) ditelantarkan dan mengalami ketidakjelasan dalam berdagang maupun mencari tempat, dan Seharusnya pedagang kaki ima atau disebut dengan PkL disosialisasikan terlebih dahulu dengan pendekatan-pendekatan tertentu, supaya mereka bisa lebih memahami dan menerima peraturan-peraturan pemerintah untuk menata kota dan memeperindah kota. Karena kebutuhan utama Pedagang Kaki Lima adalah kesempatan berusaha. 

Maka, Perlu pemerintah mempunyai program untuk menempatkan mereka di lokasi strategis. Mereka adalah pedagang yang ulet, mau bermadi matahari, bahkan terpapar debu jalanan. Maka,  berilah mereka kesempatan berusaha agar berkembang, dan sebaiknya pedagang kaki lima juga harus dibuatkan tempat khusus untuk mereka berdagang dan jika bisa menurunkan sanksi bagi para pedagang kaki lima yang melawan, melanggar aturan atau kebijakan yang berlaku. Karena, dengan begitu  ruang publik bisa ditata dengan mudah dan indah sehingga membuat kenyamanan bagi masyarakat. Sebab suatu keindahan, ketenanganm, kedamaian dan ketertiban adalah tanggung jawab kita bersama, bukan hanya pada Pedagang Kaki Lima maupun Pemerintah

Oleh : Dethy Diung - Singaraja
Pasca Marawi dan Jakarta, DPR Ingatkan Teroris Tengah Menyasar Asia

Diposting oleh On 06.20 with No comments

Jakarta – Indonesia kembali berduka, akibat serangan bom bunuh diri yang menghantam area Terminal Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (24/5) malam.

Legislator DPR RI Prananda Surya Paloh mengutuk keras serangan bom ini. Padahal tidak lama lagi Ramadan, bulan penuh berkah dan ampunan. 

Anggota parlemen yang membidangi Komisi pertahanan, intelijen, dan luar negeri ini menyampaikan simpati dan belasungakwa yang mendalam korban serangan teroris ini. Dia berharap keluarga korban tetap tabah dan bersabar menghadapi musibah ini.

“Lets Pray for Jakarta! Saya menghimbau, mari kita waspadai ancaman radikalisme berkedok agama yang membahayakan persatuan dan kehidupan demokrasi di Indonesia. Semoga Allah swt bersama kita semua," tuturnya, Jumat (26/5).

Prananda menambahkan, saat ini Asia adalah sasaran dari ekstrimis berpaham Wahabisme, dan kelompok yang berjejaring dengan ISIS. Ini bisa dilihat dari kejadian di Marawi, Filipina, yang jadi negara terlemah di ASEAN.

Dia memperkirakan kondisi tersebut akan berpengaruh secara ideologis maupun keamanan ke Indonesia.

"Indonesia harus siaga pada efek ikutan dari Filipina ini. Dan kemudian tidak boleh lengah sedikit pun dari bangkitnya para pengikut ISIS di Indonesia. Ini merupakan clear and present danger bagi ASEAN dan Indonesia khususnya," tandasnya.

Dia berharap Indonesia dapat segera mengorganisir secara diplomatik bantuan apapun yang diperlukan bagi Filipina. Hal ini agar ancaman tidak meluas dan sebaliknya, dapat menumpas seluruh jaringan ISIS di ASEAN.

Prananda Surya PalohAnggota Komisi I DPR-RI
Dalam Rangka Hari Ibu, PKS Mabar Gelar Senam Bersama dan Tutorial Make Up.

Diposting oleh On 06.26 with No comments

Manggarai Barat - Dalam Rangka Hari Ibu, PKS Mabar Gelar Senam Bersama dan Tutorial Make Up.

Dalam rangka memperingatu Hari Ibu, Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK), Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Manggarai Barat ( Mabar), menyelenggarakan berbagai macam kegiatan. 

Diantaranya, Senam bersama dan Tutorual Make Up,  bersama masyarakat Marombok,  Desa Golo Bilas Kecamatan Komodo Kabupaten Manggarai Barat. 

Ketua DPD PKS Kabupaten Manggarai Barat, Rusding, SE, menjeleskan, kegiatan ini diharapkan,  mampu memberikan spirit  bagi kaum ibu, untuk mendidik anaknya kepada hal - hal yang positf. 

Kegiatan ini dirangkaikan dengan, memperkenalkan PKS kepada masyarakat Desa Golo Bilas, dan door prise, Ujar Agustiana Mariana, S.PdI, Ketua BPKK DPD PKS Manggarai Barat. 

Masyarakat Marombok Desa Golo Bilas, sangat antusias dalam mengikuti rangkaia kegiatan yang di selenggarakan BPKK DPD PKS Manggarai Barat. 

Masyarakat berharap, kegiatan - kegiatan positif seperti ini terus dilakukan, karena manfaatnya sangat mereka rasakan. [Sumardi]
RADIASI MATAHARI, SUMBER ENERGI MASA DEPAN YANG BELUM DIMAKSIMALKAN

Diposting oleh On 16.01

Flores Post - Kehidupan kita sehari-hari sangat lekat dengan istilah energi. Berbagai sektor kehidupan seperti industri, transportasi, dan rumah tangga sebagian besar masih menggunakan energi dari  bahan bakar fosil, minyak bumi, dan gas alam yang mana ketersidiaannya terbatas. 

Exploitasi secara terus menerus dan dalam jumlah besar tentunya akan menjadi masalah dikemudian hari. Sebagai alternatif, sudah saatnya beralih ke sumber energi terbesar di tatasurya kita yaitu energi matahari. 


Energi yang berasal dari matahari sampai ke permukaan bumi dalam bentuk radiasi elektromagnetik, yang dapat dilihat sebagai cahaya dan dirasakan sebagai panas. Bentuk energi sendiri secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu energi kinetik dan energi potensial. Pancaran radiasi matahari dapat membangkitkan terjadinya energi kinetik misalnya angin dimana angin dapat digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik; serta energi potensial seperti saat terjadinya hujan. Hujan mampu memindahkan air dari daratan rendah menuju daratan tinggi sehingga aliran air di permukaan bumi dari hulu ke hilir dapat dimanfaatkan juga sebagai pembangkit tenaga listrik.



Secara umum pancaran radiasi elektromagnetik matahari yang menuju permukaan bumi akan mengalami 4 perlakuan yaitu diserap, dipancarkan, dipantulkan dan dihamburkan. Rata-rata, hanya sekitar 50% dari energi matahari yang diserap oleh permukaan bumi. Sekitar 30% dipantulkan kembali oleh awan, atmosfer, daratan, dan lautan. Sisanya sekitar 20% akan diserap oleh awan dan gas di atmosfer. Seluruh dunia menerima sekitar 174 milyar megawatt energi dari matahari setiap tahunnya. Sebagai gambaran bahwa 1 milyar megawatt cukup digunakan untuk menggerakkan kota besar sekelas New York dalam waktu lebih dari 1 dekade. Dapat kita bayangkan bagaimana energi dari radiasi matahari ini mampu memenuhi kebutuhan energi di seluruh dunia termasuk Indonesia. 


Indonesia sebagai negara berkembang, membutuhkan pasokan energi dalam mensuksekan program pembangunan. Terkait dengan sumber energi dari matahari, jika ditinjau dari gerak semu tahunan matahari, peredaran semu tahunan matahari terjadi pada 23.5°LU - 23.5°LS dimana kondisi tersebut memastikan wilayah Indonesia yang terletak pada posisi 6°LU - 11°LS akan mendapatkan pancaran radiasi matahari hampir sepanjang tahun.



Dengan sumber energi yang tersedia sepanjang tahun tersebut sudah seharusnya masyarakat Indonesia dapat beralih ke sumber energi alternatif ini.

Pemanfaatan energi matahari dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu yang pertama adalah energi dari cahaya matahari secara langsgung dikonversi menjadi energi listrik dengan menggunakan sel fotovoltaic; yang kedua yaitu energi yang dikembangkan dari panas matahari dimana digunakan sejumlah besar cermin  cekung ukuran besar untuk mengintensifkan panas dari matahari kemudian panas inilah yang digunakan untuk mengubah air menjadi uap yang nantinya dapat menggerakkan turbin sehingga dapat menghasilkan energi listrik.


Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi yang cukup besar untuk pemanfaatan sumber energi terbarukan. Sebagaimana dikutip dari wawancara flobamora.net dengan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi NTT pada 17 Mei 2016, kondisi kelistrikan NTT sendiri pada tahun 2016 total keseluruhan daya 148,04 Mega Watt dengan cadangan 6,59 Mega Watt. Akan tetapi ada enam sistem pembangkit listrik yang mengalami defisit daya salah satunya adalah Kota Maumere.


Terkait dengan sumber daya terbarukan dari energi matahari, berdasarkan data 11 tahun (2005-2015) dari BMKG Maumere, rata-rata energi matahari yang terima wilayah Maumere cukup besar. Dari total 8 jam matahari bersinar selama 1 hari, rata-rata tiap bulan dalam 11 tahun menunjukan nilai di atas 50%. Khusus bulan-bulan musim kemarau, rata-rata penyinaran matahari adalah 6 jam/hari. Bahkan pada bulan September, rata-rata 11 tahun menunjukan matahari bersinar sepanjang hari. 


Melihat potensi Maumere yang cukup besar untuk energi matahari, tentunya akan sangat disayangkan jika pemerintah belum memberikan perhatian lebih dalam pengembangan sistem energi ini. Padahal penggunaan energi matahari (energi surya) memiliki potensi yang sangat besar karena sumbernya yang terus menerus ada dan melimpah. Selain itu ini bisa menjadi investasi jangka panjang meskipun modal pengembangan awalnya cukup besar serta pemanfaatan energi ini dapat menurangi emisi karbon berbahaya sehingga sangat ramah lingkungan.



Oleh : PANDE PUTU HADI WIGUNA

5 tahun pernah bekerja di kantor BMKG Maumere (2009-2014) sebelum pindah tugas ke Bali pada akhir tahun 2014. Sekarang sedang melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofiska Jakarta.


Masyarakat Diminta Awasi dan Kritisi Proyek dari Dana Optimalisi

Diposting oleh On 14.47

Jakarta – Anggota Komisi XI DPR Johnny G Plate mengajak masyarakat untuk mengawasi dan mengkritisi alokasi Dana Optimalisasi yang mencapai Rp 58,36 triliun. Sebab metode pengusulan terhadap Dana Optimalisasi tersebut melalui proposal sehingga kekhawatiran terhadap korupsi masuk akal. Proposal tersebut kemudian diusulkan di Badan Anggaran (Banggar) lalu disinkronisasi hingga mendapat angka untuk pengalokasiannya.

Oleh karenanya perlu kerja supervisi yang kuat agar tidak terjadi penyelewengan. Bukan hanya itu, supervisi ini juga untuk bisa menggaransi tingkat efisiensi belanja negara. Politisi dari Fraksi NasDem ini berujar bahwa jangan sampai anggarannya dananya kurang sehingga proyeknya berantakan. Kemudian alokasi dana juga jangan berlebihan yang ahirnya mengakibatkan bancakan para pemburu rente.

“Yang harus diawasi oleh masyarakat bukan hanya bancakannya, tapi  prioritas daripada proyek yang masuk dioptimalisasi itu. Apakah berprioritas sangat tinggi gak? Nah kalo prioritas tinggi yang mampu menciptakan tenaga kerja yang luar biasa, menghasilkan nilai tambah yang tinggi barangkali masih ok. Tapi kalau tidak  maka tidak harus dibiayai,” paparnya saat dimintai pandangannya pada Sabtu (25/06).

Menurut Johnny, sebenarnya yang harus dibiayai itu justru yang menyangkut dengan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan pelayanan masyarakat seperti kesehatan, pendidikan, dana desa. Selain itu pemerintah juga harus memprioritaskan transfer daerah untuk stimulus ekonomi agar geliat ekonomi bisa positif, bukan bangunan fisik atau projek-proyek yang menurut prioritasnya bisa diundur pada tahun mendatang.

APBN Perubahan 2016 masih terlalu optimistis
Namun demikian, menurut Kapoksi NasDem komisi XI menyimpan catatan terhadap perubahan asumsi makro dalam APBN Perubahan 2016. Masuknya dana optimalisasi itu sendiri membuat APBN terlalu optimis karena menargetkan pertumbuhan ekonomi 5.2%. Sedangkan realisasinya sampai semester pertama pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dikisaran 4,9%-5%. Artinya untuk bisa mencapai target pemerintah tersebut, semester kedua pertumbuhan ekonomi Indonesia harus 5,4%.

Dalam pembahasan terakhir, tim panitia kerja menentukan target parubahan makro pada pendapatan Negara non pajak dan pajak. Terkait non Pajak ditentukan lifting minyak sebesar 820.000 barrel per hari dan lifting gas 1.150.000 barrel per hari.

“Lifting migas realiasinya 780.000 barrel per hari, di APBN itu targetnya 820rb per hari. Darimana 40rb nya? Ini terlalu optimistis. Juga lifting gasnya dari 1.115.000 barrel per hari naik menjadi 1.150.000 per day atau naik 35.000 barrel per hari," tambahnya.


Gegara proyeksi kenaikan penerimaan Negara tersebut, Johnny menilai asumsi APBN nya terlalu tinggi. Hal ini berdampak pada kenaikan penerimaan bukan pajak dan pajak menjadi Rp. 58,36 triliun.  


APBN yang terlalu optimistis tersebut menurutnya akan memberikan efek terhadap peringkat ekonimi dan investasi yang kurang baik. Ia menginginkan supaya APBN Perubahan tersebut memerlukan upaya ekstra pemerintah. setelah disahkan pemerintah perlu menjelaskan langkah-langkah seperti apa, sehingga angka-angka tersebut menjadi kredibel.

Narasumber      : Johny G. Plate, Anggota Komisi XI DPR RI
Pilkada, Biarlah Hati Nurani Berbicara!

Diposting oleh On 13.26


Tidak bisa dielakkan, karut marut negeri kita membuat banyak orang menjadi pesimis, krisis kepercayaan, berprasangka buruk, dan banyak hal buruk lainnya. Mencari siapa yang salah? Tidak saatnya lagi. Sekarang, bagaimana membalikkan keadaan yang sudah karut marut ini? Ini menjadi PR (baca: Pekerjaan Rumah) kita bersama.

Kalau sudah menjadi PR, harus diselesaikan, kalau tidak, ada sanksinya. Masih abstrak kiranya jika kita disuruh membalikkan keadaan itu. Sehingga setiap orang tidak tahu bagaimana menyelesaikan PR itu. Kalau sudah tidak tahu, maka pasti akan malas mengerjakannya. Dan pada akhirnya akan mendapat sanksi, sanksinya: akan tetap hidup pada negeri yang karut marut.

Jadi, bagaimana seharusnya mengerjakan PR itu? Memang melalui tulisannya di salah satu harian nasional, Bapak Joko Widodo sebelum jadi Presiden telah memperkenalkan revolusi mental untuk kita. Secara singkat, beginilah penulis menerjemahkan ide besar dari beliau; Relakah kita untuk antri dilayani walau petugas yang sedang bertugas adalah keluarga atau kenalan kita? Siapkah kita untuk memberikan pelayanan yang sama, baik kepada kenalan atau keluarga dan kepada yang bukan keluarga atau yang bukan kita kenal? Lebih lanjut lagi, siapkah kita untuk lebih lama mengantri karna tidak memberikan uang pelicin?, dan maukah kita mengerjakan tugas kita tanpa mengharapkan uang pelicin? Memang semua berpusat pada mental. Pada awalnya kita akan dibenci oleh keluarga atau kenalan kita sendiri, namun lambat tapi pasti, penulis yakin mereka akan berbalik memuji perilaku itu.
Semua itu akan terlaksana dari niat baik kita. Mari memulai dari diri kita sendiri dan kemudian menularkannya kepada orang lain. Mari kita menggunakan hati nurani kita. Kalau selama ini kita mendiamkan hati nurani kita karna kenyamanan pribadi kita, mari sekarang kita biarkan dulu hati nurani kita yang berbicara. Hati nurani akan membawa kita kepada ha-hal yang baik, karna yang dibicarakan hati nurani adalah hanya hal-hal yang baik.

Kita sendiri sedang sakit, negara kita sedang sakit. Semua yang kita simak di atas bagaikan orang sakit mengobati yang sakit. Maka perlu waktu yang lama dan tekad yang bulat untuk menyembuhkannya. Sepintas, kita akan berpikir bahwa keadaan yang lebih baik tidak akan mungkin terwujud. Bagaimana mungkin si sakit mengobati yang sakit? Namun, tidakkah kita sudah pernah melalui masa-masa gelap kita di masa yang lalu, lebih dari 350 tahun kita dijajah, namun karna tekad dan semangat ingin keluar dari kegelapan itu, kemudian para founding fathers kita menyatukan persepsi untuk keluar dari kegelapan itu,  seiring, berjalan menuju masa depan penuh cahaya. Kita sudah buktikan itu semua. Puncaknya tampak pada tanggal 17 Agustus 1945, ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan presiden pertama kita, Bapak Ir. Soekarno.

Kita adalah bangsa yang kuat, kita punya kekayaan alam yang melimpah, sumber manusia yang tidak usah diragukan lagi, hanya, adakah niat kita untuk berubah, mengubah mindset kita selama ini, yang hanyut dengan kenikmatan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain, kenikmatan sesaat yang tidak memikirkan masa depan anak cucu kita.

Pada prosesnya akan banyak tantangan, apalagi dengan keadaan diri kita sendiri yang sedang sakit, akan semakin berat tantangannya. Namun, mari kita yakinkan sekali lagi diri kita, bahwa dengan membiarkan hati nurani kita berbicara, hidup kita akan jauh lebih baik dari keadaan yang sekarang.

Pada tahun 2018 masyarkat Nusa Tenggara Timur (NTT) akan memilih pelayan daerah (baca: Gubernur dan Wakil Gubernur NTT). Apa yang perlu kita lakukan adalah mengawal segala tahapan yang akan dilaksanakan hingga semua terlaksana dengan tertib dan damai. Mari gunakan hak pilih yang sudah diberikan kepada kita dengan sebaik-baiknya, setidaknya demi kualitas demokrasi yang lebih baik, dan itu bisa kiranya mengurangi kemungkinan kecurangan-kecurangan yang dapat disengaja. Mungkin perlu kita mengingat lagi perkataan mantan presiden Amerika Serikat, John Fitzgerald Kennedy, “Ask: not what your country can do for you, ask what you can do for your country.” Jangan tanyakan apa yang negara berikan untukmu, tapi tanyalah apa yang boleh kamu perbuat untuk negara.

Setelah kita memantapkan hati untuk ikut memberikan suara kita, mari kemudian beri kesempatan hati nurani kita bersuara untuk pemilihan itu. Janganlah kiranya kita memilih karena dia adalah keluargaku, satu agamaku, satu sukuku dan banyak satu – satu yang lain yang sejenis.  Jika diperlukan untuk berkontemplasi, berkontemplasilah untuk membuat hati nurani kita bisa berbicara lagi hingga mengelurakan suaranya, karna mungkin selama ini secara sadar atau tidak sadar kita sudah memotong lidanya. Maka akan terpilihlah kepala daerah yang benar-benar mengorbankan kenikmatan diri sendiri, yang akan mementingkan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, keluarga, dan kelompoknya. Maka betul-lah pemimpin itu adalah pelayan. Pemimpin yang benar-benar memimpin. Karna memimpin adalah melayanai. Semoga demi bonum commune, hati nurani Kepala Daerah yag terpilih nanti juga selalu tak henti-hentinya berteriak untuk masa depan Indonesia pada umumnya dan daerah kita secara khusus, untuk senantiasa bercahaya.
Oleh: Tomson Sabungan Silalahi
 
*Pengurus Pusat PMKRI Periode 2016-2018

Jakarta, 14 Juni 2016